Demi Secercah Harapan yang Pias untuk jadi CPNSD Jadwal Tanggal 10 November 2008
Nov 09

potret dari tempat sepi

Lamongan masih di guyur hujan, kadang deras kadang berhenti untuk sekian menit, memberikan kesempatan pada pengendara motor untuk melaju lagi. Sementara itu hampir semua stasiun TV menyiarkan berita dieksekusinya Pelaku Bom Bali I. Sedang aku sendiri terpekur menunggu toko kelontong dan Copy center sembari mencetak undangan pernikahan. Tiada yang istimewa, hanya sendirian di temani lalu lalang kendaraan bermotor dan sesekali kereta api yang lewat.

Tidak ada yang istimewa hari ini, hanya kesepian yang menyeruak dan kelengangan yang menyergap. Beberapa kali msg masuk lewat YM ku, tak satupun mampu menarik dan meluapkan gairah kehidupan ku hari ini. Mungkin terimbas layunya bunga bunga semak di kawasan tenggulun (rumah tinggal Amrozi dan Muchlas). Semua terlihat datar dan amat mekanis. Mobil lewat, mengisi kertas foto ditray printer dan melihat layar M600 yang tiada muncul pesan di sana.

Hampir dua jam sudah, rasa bosan semakin besar dan suara burung walet lapa lapat terdengar, sekali lagi tidak ada yang istimewa hari ini. Hanya suran sepeda motor dengan knalpot yang sember, kendarang besar yang memaku jalanan dan suara rintik hujan. Biasa dihari seperti ini aku sibuk bercengkrama dengan Istri atau ber sms dengan seorang teman. Seperti yang tadi tadi, hujan mulai turun lagi danlangit semakin gelap.

Kulihat lagi jalanan, berharap ada Istriku sambil membawa kueh dari segala macam Kueh yang terbut dari Waluh. Dia berjanji mau membelikan beberapa Bakpao Waluh oleh oleh khas malang (cobain deh pasti enak di bandingkan bakpao telo). Semalam dia juga telepon, mau membelikan sebuah novel karangan Bang Tere Liye yang Hafalan Sholat Delisa, tetapi habis juga. Senasip denganku saat beli di toko buku Gunung Agung di bilangan Plaza M jakarta. Kemudain kami berjanji untuk hunting buku minggu depannya ke surabaya. Hanya hanya kami berdua, tidak lebih tidak kurang.

Janji untuk menulusuri toko buku di surabaya harus terealisasi, tidak lebih tidak kurang. Sebuah Dump Truck lewat, kulirik M600, masih sepi tidak ada tanda tanda sms masuk. Biarlah hari ini sepi, hampa tanpa ada energi yang meluap luap. Cuma sebuah posting blog narsis dan harapan agar bisa lebih baik dan lebih baik lagi.

Tags: , , ,

Artikel Terkait

2 Responses to “Kehampaan dan Kesepian, Sebuah Penghukuman Diri Sendiri”

  1. Rionya says:

    hehehehhe…. sama boz.. di cilacap juga ujan terus nie…. ngomong2 soal “pagelaran eksekusi amrozi CS”, ternyata membawa berkah tersendiri nie buat pedagang makanan. Banyak wartawan-wartawan kelaparan yang nongkrong di warung sate, nasgor, ama kwetiau. Beberapa mobil TV swasta malah sempat ku foto. Maklum, jarang-jarang ada mobil Trans TV, ANTV, TV7, RCTI, dan konco-konconya nongol di sini.

  2. uyung says:

    kesepian seperti penyekat yang terasa didalam rongga dada, menyesakkan sekaligus kosong. kadang-kadang ditengah manusia ramai hati dan jiwa terasah terasing. kamu tahu har, udah sekian tahun aku di Lamongan terasa aku belum membumi sama sekali. disini gersang dan layu, dan yang paling menyenangkan adalah hujan….hujan…dan hujan hanya itu kadang2 yang membuatku senang dan tentu saja nasi bebek yang pedas. melihat foto dalam tulisanmu gue kasihan banget nih anak he he he

Leave a Reply

preload preload preload